Rabu, 05 Juli 2017

Rizieq Shihab: Rekonsiliasi Atau Revolusi

Rizieq Shihab: Rekonsiliasi Atau Revolusi


YAMAN, JITUNEWS.COM - Imam Besar FPI (Front Pembela Islam) yang mengasingkan diri ke luar negeri, saat ini berada di Yaman, rupanya tidak tahan untuk tidak buka suara tentang pertemuan antara petinggi GNPF MUI (Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama) dan Presiden Joko Widodo baru-baru ini, dalam kehangatan suasana Idul Fitri. 

Rizieq Shihab: Perginya Saya Bukan Bentuk Pelarian dari Tanggung Jawab Hukum, Tapi...

Dalam keterangannya melalui video, Rizieq Shihab yang menjadi Ketua Pembina GNPF MUI menyampaikan apresiasi tinggi dan jutaan terima kasih kepada semua elemen bangsa yang selama ini selalu bersama para habaib dan ulama mengawal Aksi Bela Islam yang disebutnya untuk perjuangan melawan kezaliman dan kemungkaran. 

Begini antara lain ucapannya, ”Saya dari kejauhan selalu memonitor dan mencermati serta mengevaluasi semua pergerakan para sahabat baik dari kalangan Islam maupun nasionalis di negeri tercinta Indonesia.” Kepada umat yang setia mendukungnya, Rizieq mengingatkan agar selalu waspada disertai sikap yang mengarah pada antitesis dari rekonsiliasi nasional. Begini bunyi pernyataannya, ”Terhadap lawan, kita harus bersikap negatif thinking yaitu berfikir negatif untuk tetap membangun kewaspadaan, terhadap kawan kita wajib bersikap positif thinking yaitu berfikir positif untuk menjaga persatuan dan persaudaraan.” 

GNPF MUI Bertemu Jokowi, Polisi: Kasus Rizieq Tetap Jalan

Menurutnya, GNPF-MUI akan menggelar rapat akbar dengan pimpinan semua elemen juang untuk melaporkan tentang apa yang sudah, sedang dan akan dilakukan dalam perjuangan Aksi Bela Islam selanjutnya. 

”Insya Allah, rapat akbar yang akan digelar GNPF MUI yang akan datang ini akan menjadi satu forum silaturrahmi untuk lebih memperkuat tali persaudaraan dan persatuan semua elemen juang yang pro Aksi Bela Islam selama ini,” ucap Rizieq. 

Namun, ia juga bertutur dengan sikap bijak, mengingatkan masyarakat agar berhenti melakukan perdebatan via media sosial karena hanya akan jadi fitnah yang memecah belah umat. Tetapi Rizieq juga mengeluarkan ultimatum dalam situasi semacam ini, ”Rekonsiliasi atau Revolusi". Ultimatum ini bukan menyerah, sekali lagi saya katakan ultimatum ini bukan sikap menyerah. Akan tetapi justru sikap kesatria habib dan ulama dalam mengimplementasikan Aksi Bela Islam 411 dan 212 yang selalu mengedepankan dialog serta perdamaian dengan semua pihak,” papar Rizieq. 

Lalu sambung Rizieq, tidak ada rekonsiliasi tanpa stop kriminalisasi ulama dan aktivis. ”Tidak ada rekonsiliasi tanpa stop penistaan terhadap agama apapun. Tidak ada rekonsiliasi tanpa stop penyebaran paham komunisme, marxisme, leninisme dan liberalisme serta paham sesat lainnya.” 
Lalu bagaimana jika rekonsiliasi gagal? Jawaban pertanyaan ini malah mengarah kepada syahwat kekuasaan untuk menggulingkan regim Jokowi. Begini bunyinya, ”Ganti rezim pelindung penista agama dan pelanggar konstitusi negara. Bersihkan negara dari neolib dan neo PKI,” begitu ucapan Rizieq. 

Namun Rizieq juga mengingatkan umat Islam, agar tetap menjaga keutuhan NKRI dan tegakkan supremasi hukum di semua bidang. Dan juga kembali ke UUD 18 Agustus 1945 yang asli dan dijiwai Piagam Jakarta 22 Juni 1945. 

Ini Kunci Sukses Budi Karya Atur Arus Mudik Lebaran

Penulis : Vicky Anggriawan,Yusran Edo Fauzi
قالب وردپرس
Share:

0 comments:

Posting Komentar

Arsip Blog

Definition List

Unordered List

Support