Kamis, 15 Juni 2017

IDM: Perusahaan Kontraktor Infrastruktur Akan Sulit Dapatkan Gain Di 6 Bulan Ke Depan

IDM: Perusahaan Kontraktor Infrastruktur Akan Sulit Dapatkan Gain Di 6 Bulan Ke Depan


JAKARTA, JITUNEWS.COM- Direktur Eksekutif Indonesia Development Monitoring (IDM), Fahmi Hafel mengatakan akibat pemerintah melakukan pemotongan anggaran yang cukup besar pada sektor infrastruktur, maka saham Perusahaan Kontraktor Infrastruktur yang sudah listing di bursa saham sepertinya akan sulit meningkat dan mendapatkan gain di 6 bulan ke depan. Hal ini dikarenakan pemerintah melakukan pemotongan anggaran untuk sektor infrastruktur yang cukup lumayan besar.

Dukung Kementan, BBWS Cisanggarung Akan Normalisasi DAS

Menurutnya, Penawaran Umum Perdana Initial Public Offering (IPO) Saham PT Totalindo Eka Persada Tbk (TOPS) dilakukan oleh PT Bahana Sekuritas (DX), PT CLSA Sekuritas Indonesia (KZ) dan PT Indo Premier Sekuritas (PD) selaku Penjamin Pelaksana Emisi Efek. Dimana TOPS Perusahaan yang merupakan Perusahaan Kontraktor yang baru akan melantai di bursa saham sepertinya akan kurang menarik investor untuk membelinya. 

"Apalagi kata TOPS yang banyak mengerjakan proyek-proyek bangunan dan gedung swasta seperti apartemen ,hotel dll yang bergantung pada pembangunan infrastruktur sarana dan prasarana oleh pemerintah," ujarnya di Jakarta, Kamis (15/6).

Bincang Khusus dengan Ari Kuncoro: Membangun Negeri, Membangun Infrastrukturnya

Menurut Fahmi, TOPS juga pernah beberapa kali dalam mengerjakan proyek pembangunan sebuah proyek milik swasta mengalami kesalahan fatal dari kontruksinya sampai ambruk bangunannya dan menyebabkan kematian dan luka berat para pekerjanya. 

"Seperti pembangunan apartemen Podomoro City Deli Medan di Jalan Putri Hijau Medan, dan pengembangnya PT Podomoro Land Tbk akan menekankan kontraktor untuk meningkatkan keselamatan dan kesehatan kerja yang harus dilakukan oleh PT Totalindo, tentu ini sebuah contoh yang bisa membuat PT Totalindo merugi," jelasnya. 

Menurutnya dalam prospektur rencana penggunaan dana yang diperoleh dari Penawaran Umum Perdana Saham ini, setelah dikurangi biaya-biaya terkait emisi saham akan digunakan seluruhnya untuk: 

1.) Sekitar 35% atau sebesar Rp174.463.765.543 untuk pembayaran sebagian utang berdasarkan fasilitas-fasilitas pinjaman/pembiayaan yang diperoleh dari kreditur-kreditur, Rp125.953.313.564 untuk membayar sebagian pinjaman Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN), Rp31.343.251.819 untuk membayar sebagian pembiayaan musyarakah Bank Panin Dubai Syariah Tbk (PNBS), Rp9.081.863.068 untuk membayar sebagian pembiayaan musyarakah PT Bank BNI Syariah dan Rp8.085.337.092 untuk membayar sebagian pembiayaan Bank Muamalat Indonesia Tbk). 

2.) Sekitar 60% untuk memenuhi kebutuhan modal kerja Perseroan guna mendukung operasi Perseroan yang terkait beban pokok penjualan, beban umum dan administrasi, serta bebas bunga pinjaman,

3.) Sisanya 5,00% untuk mendukung pengembangan bisnis Perseroan di bidang konstruksi melalui pembelian mesin, alat berat dan/atau peralatan konstruksi antara lain berupa Aluma System, tower crane, passenger hoist, dan concrete pump. 

"Penjualan saham TOPS lebih besar digunakan untuk membayar hutang pada kreditur, ini artinya sangat sulit nantinya pemegang saham TOPS akan mendapatkan keuntungan dari kenaikan nilai saham Perdana dan apalagi akan bisa mendapatkan dividend nantinya," terangnya. 

Oleh karena itu, Fahmi meminta agar para investor di pasar saham untuk lebih berhati-hati dalam membeli saham perdana TOPS. 

"Jumlah Saham yang ditawarkan dalam IPO ini adalah sebanyak 1.666.000.000 lembar saham baru dengan Nilai Nominal Rp 100,- dan Harga Penawaran Rp 310,- per saham," pungkasnya.

Tak Hanya Bangun PLBN, PUPR Perlebar Jalan Akses Menuju Tiga PLBN Kalbar

Penulis : Khairul Anwar, Aurora Denata
قالب وردپرس
Share:

0 comments:

Posting Komentar

Arsip Blog

Definition List

Unordered List

Support